Selasa, 20 Juli 2010

Pengguna Obat AIDS Melonjak

Penyebaran HIV/AIDS kian mengkhawatirkan saja. WHO melansir jumlah terbaru pengguna obat AIDS yang terus bertambah hingga berkali-kali lipat.

Jumlah penderita HIV/AIDS terus melonjak. Hal itu tercermin dari lonjakan luar biasa orang yang menggunakan obat AIDS dari 1,2 juta orang pada tahun lalu menjadi 5,2 juta orang.

Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia PBB (World Health Organization/WHO), antara 2003 hingga 2010, jumlah pasien yang mendapatkan pengobatan antiretroviral meningkat hingga dua kali lipat.

"Kami sangat tergugah dengan lonjakan ini. Ini benar-benar peningkatan terbesar yang pernah kami lihat dalam satu tahun," ujar Gottfried Hirnschall, Direktur bidang HIV/AIDS WHO, Senin (19/7). Dia dalam wawancara dengan The Associated Press mengatakan, lonjakan jumlah pengguna obat AIDS ini terkait dengan semakin terbukanya akses pengobatan di seluruh dunia, terutama di kawasan Sahara Afrika.

WHO menyampaikan data terbaru itu di ajang konferensi AIDS Internasional di Wina, Austria. Sementara itu, di kawasan Eropa Timur, secara proporsional jumlah mereka yang menggunakan obat AIDS lebih sedikit ketimbang di kawasan lain, sebab pengguna obat ini sering kali dikucilkan dan tak diberikan akses yang cukup.

Hirnschall menuturkan, para pemakai obat AIDS di Eropa Timur kerap dikriminalisasi dan sering mendapat stigma buruk. Sementara kalau di Afrika, AIDS merupakan epidemi di kalangan heteroseksual, tetapi di Eropa Timur penularan AIDS terjadi di kalangan pengguna obat-obatan terlarang.

Dari data yang disampaikan WHO mengenai jumlah pemakai obat AIDS itu Mbelum mencerminkan jumlah penderita AIDS yang sebenarnya. Sebab, jumlah pengguna obat ini mungkin hanya sepertiga dari jumlah penderita HIV/- AIDS di seluruh dunia. Dari situ terlihat bahwa betapa epidemik AIDS ini begitu sulit diatasi, terutama jika tidak dibarengi oleh dukungan pemerintah dan masyarakat.

Sementara di tempat yang sama, dipaparkan penelitian terkait metode deteksi dini HIV/- AIDS. Kasus penularan HIV/AIDS sering kali terjadi karena banyak orang yang belum tahu bahwa seseorang di sebuah komunitas sudah tertular virus mematikan itu. Untuk itulah, selama bertahun-tahun dicari cara yang dapat mendeteksi kasus HIV lebih dini.

Nah, dalam upaya meningkatkan metode untuk deteksi dini HIV, para peneliti mencoba menentukan apakah program menggunakan pengujian asam nukleat (NAT) akan meningkatkan jumlah kasus yang bisa terdeteksi lebih awal. Dalam uji coba itu, ternyata program NAT dapat mendeteksi HIV 23 persen lebih awal.

Tes asam nukleat ini mekanismenya adalah mencari jejak bahan genetik dari organisme penyebab infeksi. Ini berbeda dari metode pendeteksian standar yang mengandalkan titik antibodi sistem kekebalan tubuh untuk patogen. Kata para peneliti dari University of California, Amerika Serikat tersebut, meskipun program pencegahan HIV di Amerika Serikat sudah dilakukan sejak puluhan tahun lalu, namun tingkat kejadian HIV tetap meningkat.

Tahap awal infeksi HIV adalah ketika orang yang paling mungkin untuk menulari orang lain sehingga deteksi dini dan akurasi sangat penting dalam upaya untuk mengendalikan penyebaran HIV, virus penyebab AIDS. Penelitian ini melibatkan lebih dari 3.000 orang yang melakukan tes HIV di beberapa klinik di wilayah San Diego, Amerika Serikat. Peserta pertama diuji dengan tes air liur cepat. Kalau positif, pasien diberi tahu dan darah diambil untuk tes HIV standar.

Jika hasilnya negatif, darah diambil untuk NAT. Hampir seperempat dari kasus orang dengan HIV telah diidentifikasi positif hanya dengan tes NAT. Penelitian ini juga menemukan bahwa lebih dari dua pertiga pasien dengan hasil tes NAT negatif menggunakan komputer atau voice-mail untuk mendapatkan hasilnya.

"Memperluas penggunaan NAT untuk program tes HIV rutin dapat membantu menurunkan tingkat insiden HIV dengan mengidentifikasi orang dengan infeksi akut yang seharusnya dapat terjawab melalui pemeriksaan rutin," kata penulis studi Dr Sheldon Morris, pengajar di University of California, San Diego's Antiviral Research Center, Amerika Serikat.

"Selain itu, pelaporan otomatis hasil negatif dapat membuktikan alternatif yang dapat diterima dan mengurangi pelaporan tatap muka yang intens," tambah Morris dalam studinya yang dimuat di jurnal Annals of Internal Medicine edisi 14 Juni itu.

Diketahui, AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome. AIDS merupakan suatu penyakit yang ditimbulkan sebagai dampak berkembang biaknya virus HIV di dalam tubuh manusia. Virus ini menyerang sel darah putih (sel CD4) sehingga mengakibatkan rusaknya sistem kekebalan tubuh.

Hilangnya atau berkurangnya daya tahan tubuh membuat si penderita mudah terjangkit berbagai macam penyakit, termasuk penyakit ringan sekalipun. Virus HIV menyerang sel CD4 dan menjadikannya tempat berkembang biak virus HIV baru kemudian merusaknya sehingga tidak dapat digunakan lagi. Sebagaimana kita ketahui bahwa sel darah putih sangat diperlukan untuk sistem kekebalan tubuh.

Tanpa kekebalan tubuh, maka ketika tubuh kita diserang penyakit, tubuh kita lemah dan tidak berupaya melawan jangkitan penyakit. Akibatnya, kita dapat meninggal dunia meski terkena influenza atau pilek biasa. Ketika tubuh manusia terkena virus HIV, maka tidaklah langsung menyebabkan atau menderita penyakit AIDS, melainkan diperlukan waktu yang cukup lama bahkan bertahun-tahun bagi virus HIV untuk menyebabkan AIDS atau HIV positif yang mematikan.

http://dede-health.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar